Selasa, 14 Juli 2009

Putusan Hakim Dianggap Benar

Beberapa waktu yang lalu di sebuah Pengadilan Negeri di Sumatra, seorang anak laki-laki (12 tahun), dijatuhi pidana penjara 2 bulan. Hal ini karena si anak telah terbukti melakukan pencurian 12 butir kelapa. Dan rupanya itu bukan kali pertama si anak mencuri.

"Saya haus, Bu Hakim," jawab si anak ketika ditanya mengapa.
"Haus kok sampai 12 butir," sanggah Hakim yang tahu kalau terdakwa sudah sering melakukan pencurian.

Dan palu pun diketok. Terdakwa dijatuhi hukuman penjara 2 bulan.

Salahkah Hakim?
Sekilas hal ini tampak tak manusiawi. Berapa sih harga 12 butir kelapa? Apakah sebanding dengan masa depan si anak yang harus dipenjara?

Sebanding ataukah tidak, namun begitulah hukum. Hukum tak mempunyai perasaan. Dan hakim hanyalah memutus berdasarkan peraturan yang berlaku. Tak peduli haus atau apupun alasannya, tak peduli berapapun jumlah barang yang diambil, mencuri tetaplah salah.

Pasal 362 KUHP: Barangsiapa mengambil suatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak, dihukum, karena pencurian, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900,-

Dalam kasus ini, unsur-unsur dalam pasal 362 KUHP telah terpenuhi, yaitu mengambil (untuk menguasai) suatu barang milik orang lain dengan melawan hukum.

Berdasarkan UU No. 3/1997 tentang Pengadilan Anak, maka pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana adalah paling lama 1/2 (setengah) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.

Jadi dalam hal ini ketentuan pasal 362 KUHP dan UU Pengadilan Anak sudah terpenuhi. Hakim sudah benar. Res judicata pro veritate habetur; apapun bunyi sebuah putusan hakim, maka putusan hakim tersebut dianggap benar.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: