Minggu, 02 Agustus 2009

Memotong Dahan Pohon Tetangga

Beberapa waktu yang lalu Abdel dan Temon, (keduanya bukan nama sebenarnya), bertengkar hebat. Tadinya mereka hanya adu mulut tapi nyaris berubah jadi saling bacok. Untung saja ada tetangga lain yang melerai dan membawa mereka ke kantor kelurahan. Dan di depan Pak Lurah dan Perangkat Desa lainnya, terkuaklah asal mula permasalahan.

Abdel dan Temon adalah bertetangga. Rumah Abdel berbatasan dengan tanah pekarangan milik Temon.Diantara keduanya dibatasi dengan tembok. Pekarangan Temon ditanami pohon pisang, bambu dan singkong.

Saat itu seperti biasa Temon memeriksa pekarangannya. Ia kaget karena ada beberapa batang pohon bambunya hilang. Ada bekas tebangan di sana. Dan setelah diteliti ternyata batang-batang bambu itu ada di tempat lain meski masih di pekarangan tersebut. Setelah diusut-usut, tanya sana-sini, ketemulah si penebang bambu yang tak lain adalah Abdel yang rumahnya tak jauh dari pohon bambu itu tumbuh.

Temon mendatangi Abdel. Intinya tidak terima bambunya ditebang. Sedangkan Abdel sendiri tidak merasa bersalah. Abdel beralasan daun-daun bambu yang ditiup angin mengotori pekarangan rumah Abdel. Apalagi memang pohon-pohon bambu itu ‘mentiung’ masuk ke pekarangan rumah Abdel sehingga ular bisa masuk ke sana melalui pohon-pohon itu.

Ditinjau dari segi hukum, perbuatan Abdel yang menebang bambu milik Temon tanpa ijin adalah salah. Sedangkan Temon tidak bisa dibenarkan begitu saja karena tidak mencegah pohonnya mengganggu tetangganya.

Orang-orang yang hidup bertetangga tentulah mempunyai hak dan kewajiban masing-masing satu sama lain. Termasuk menyangkut dahan atau pohon yang mentiung/menjorok di pekarangan orang lain. Hal ini diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yaitu tentang hak dan kewajiban antara pemilik-pemilik pekarangan yang satu sama lain bertetanggaan.

Pasal 666 (2) KUHPerdata : Barangsiapa mengalami bahwa dahan-dahan pohon tetangganya mentiung di atas pekarangannya, berhak menuntut supaya dahan-dahan itu dipotongnya.

Pasal 666 (3) KUHPerdata : Apabila akar-akar pohon tetangganya tumbuh dalam tanah pekarangannya, maka berhaklah ia memotongnya sendiri; dahan-dahan pun bolehlah ia memotongnya sendiri, jika tetangga setelah satu kali ditegur, menolak memotongnya, dan asal ia sendiri tidak menginjak pekarangan si tetangga.

Dalam kasus di atas, tentulah tidak akan timbul masalah jika sebelumnya Abdel memberi tahu Temon baik-baik tentang pohon bambu milik Temon yang mentiung dan mengotori pekarangan Abdel, dan meminta Temon untuk memotongnya. Jika sudah ditegur 1x Temon menolak untuk memotongnya, maka secara hukum Abdel berhak memotongnya sendiri; dengan catatan, hanya dahan yang mentiung di pekarangannya saja yang dipotong dan saat memotong itu Abdel melakukannya di pekarangannya sendiri tanpa pernah menginjak pekarangan Temon.

Akhirnya kasus ini dapat diselesaikan baik-baik tanpa sampai ke pengadilan. Abdel mengganti rugi atas pohon-pohon bambu yang ditebangnya tanpa ijin kepada Temon. Dan keduanya kembali hidup bertetangga dengan rukun, sampai saat ini.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: