Kamis, 15 Oktober 2009

Eksepsi: dari Syech Puji sampai Antasari Azhar

Apa berita terhangat minggu ini dan mungkin juga minggu depan? Menurutku, eksepsi Syech Puji dan eksepsi Antasari Azhar. Eksepsi (exeptio) adalah tangkisan terhadap hal-hal di luar pokok perkara.

Tanggal 13 Oktober 2009, Syech Puji (Pujiono Cahyo Widianto) yang dituduh melanggar UU Perlindungan Anak karena menikahi Lutfiana Ulfa (13 tahun), bebas. Dan tentu saja bebasnya pria ini menimbulkan banyak protes dari berbagai kalangan.

Sebenarnya Syech Puji sendiri bebas bukan karena ia tidak terbukti bersalah melanggar UU Perlindungan Anak, bahkan pokok perkaranya sendiri belum disentuh. Syech Puji bebas karena Majelis Hakim mengabulkan eksepsi dari pihak terdakwa. Dalam Putusan Sela, yakni putusan yang belum menyangkut pokok perkara, Hakim menilai tuntutan (surat dakwaan) Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak cermat, tidak jelas dan kabur, sehingga batal demi hukum. Dan terhadap putusan sela ini, JPU nampaknya akan mengajukan perlawanan/banding ke Pengadilan Tinggi.

Sedangkan dalam sidang pertama kasus Pembunuhan Nasrudin Dzulkarnaen dengan terdakwa mantan Ketua KPK, Antasari Azhar, publik dibuat gempar dengan dakwaan yang dibacakan JPU. Bahkan terdakwa yang disebut-sebut sebagai otak pembunuhan tampak beberapa kali geleng-geleng kepala. Dalam surat dakwaannya, JPU membeberkan tentang ‘aktivitas’ terdakwa dengan Rani Juliani, istri siri Nasrudin, dalam sebuah kamar hotel dengan begitu rinci. Tentu saja terdakwa keberatan bahkan menyatakan tidak mengerti dengan surat dakwaan tersebut. Atas pernyataan tidak mengerti dari terdakwa, JPU balik bertanya di bagian mana yang tidak dimengerti bahkan JPU juga sempat menyinggung soal terdakwa sebagai jaksa senior. Bahkan kuasa hukum terdakwa menyebut surat dakwaan sebagai novel picisan. Dan terdakwa pun mengajukan eksepsi.

Seminggu kemudian (15/10/09), digelar sidang lanjutan pembunuhan Nasrudin. Dalam sidang yang disiarkan langsung TvOne tersebut, Antasari membaca sendiri eksepsi-nya kemudian dilanjutkan pembacaan eksepsi oleh kuasa hukumnya. Dalam eksepsinya, terdakwa menyatakan keberatan atas surat dakwaan, dan menilai dakwaan vulgar dan tidak etis dibacakan. Ada upaya pembunuhan karakter terhadap dirinya. Bahkan terdakwa menyatakan bahwa JPU dan dirinya sama-sama tidak mengerti dengan dakwaan tersebut karena JPU tidak bisa menjelaskan dakwaan kepada terdakwa dalam sidang pertama.
Bagaimana kelanjutan dari eksepsi-eksepsi ini?

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: