Jumat, 29 Januari 2010

Menikah tanpa Kehadiran Ayah Kandung

Suatu siang, pada suatu acara pernikahan di daerah Umbulharjo, Jogja, tepatnya pada acara ijab kabul, belasan orang yang hadir tak mampu membendung air matanya. Itu adalah air mata tanda miris, nelangsa atas keadaan yang ada. Rasa simpati untuk mempelai wanita.

Mempelai wanita, Eta (bukan nama sebenarnya), beberapa bulan sebelumnya begitu kebingungan karena kehilangan jejak sang ayah yang sebelumnya diketahui berada di tanah Papua. Ditelfon, nomor yang dihubungi sudah tidak terdaftar. Disurati, tidak ada balasan. Padahal kehadiran sang ayah sebagai wali sangat diperlukan dalam pernikahannya.

Siang itu, ayah yang sejak kecil tak dirasakan kasih sayangnya oleh Eta, tak datang jua. Akhirnya dengan terbata-bata dan tangis tertahan, Eta memberikan pernyataan secara lisan di depan petugas KUA disaksikan semua tamu yang hadir. Pernyataan bahwa memang benar ayah kandungnya tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya. Pernyataan secara tegas ini diperlukan agar wali hakim bisa bertindak sebagai wali nikah manakala ayah sebagai wali nasab tidak ada. Hal ini berdasar pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 23 ayat (1).
KHI pasal 23 (1): Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan.

Mengapa diperlukan adanya suatu pernyataan yang tegas tentang keberadaan ayah kandung?
Penting sekali pernyataan itu diucapkan dengan tegas setelah berbagai upaya yang dilakukan untuk mencari dan mendatangkan ayah kandung tak membuahkan hasil. Hal ini karena ayah kandung bagaimanapun juga adalah wali nikah yang pertama dan utama yang dapat mencegah terjadinya pernikahan yang dilakukan dengan wali nikah yang lain. Hal ini sesuai dengan KHI pasal 62 ayat (2): Ayah kandung yang tidak pernah melaksanakan fungsinya sebagai kepala keluarga tidak gugur hak kewaliannya untuk mencegah perkawinan yang akan dilakukan oleh wali nikah yang lain.

So ayah kandung bagaimanapun juga sangat penting kehadirannya untuk pernikahan si anak perempuan. Namun bila si ayah meninggal atau tidak ada atau gaib atau enggan, bukan berarti seorang perempuan tidak bisa melaksanakan Sunnah Rasul. Kehadiran ayah sebagai wali nikah dapat digantikan dengan wali hakim.

Comments
4 Comments

4 komentar:

Anonim mengatakan...

kedua
orangtuaku bercerai,, saat aku mnikah tidak ada wali nasab? sahkah?
ayah tinggal berpindah2(blum pnya rumah) begitu juga dengan kakek,,
kakak perempuan ayah yg mempunyai rumah pun sudah pindah,, tidak ada yg
tau alamat barunya

dwisuka mengatakan...

kasusnya sama kan dg artikel di atas?... maka jk segala upaya sdh dilakukan, dan ada pernyataan di hadapan petugas KUA, maka insya Allah sah dg wali hakim.

Anonim mengatakan...

Ibu saya sudah meninggal sedangkan ayah saya meninggalkan saya sejak usia saya 3tahun,dan sekarang pun saya tidak pernah tau kberadaan beliau,keluarga saya pun tidak ada yg tau boleh kh saya menikah dengan wali hakim,dan bagaimana hukumnya...

sindispot mengatakan...

orangtua saya sudah lama bercerai ketika saya lahir saya diambil asuh oleh nenek dan kakek saya tp saya dan kakek saya tidak ada hubungan dara jika saya menginginkan kakek saya yang jadi wali dan saya tidak ridho jika ayah kandung saya yang jadi wali saya karena dari saya bayi smpe skrng tidak pernah menafkahi saya bagaimana hukumnya