Selasa, 16 Februari 2010

Yogyakarta, Serambi Madinah

Beberapa waktu yang lalu di sebuah harian lokal ada ulasan tentang penyebutan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah. Hal ini sangat menarik mengingat penyebutan ini begitu berbeda (kalau tak ingin dikatakan, tak ada hubungannya) dengan penyebutan Aceh sebagai Serambi Mekah.

Aceh disebut sebagai Serambi Mekah adalah karena faktor agamis, di mana Aceh merupakan pintu masuk berkembangnya Islam di tanah air. Lalu bagaimana dengan Yogyakarta? Yogyakarta bukanlah merupakan pintu masuk bagi agama Islam. Rupanya keterkaitan antara Yogyakarta dengan Madinah adalah karena faktor historis.

Berabad lalu, saat awal perkembangan Islam, saat keadaan genting dan bahaya di Mekah, kaum muslimin hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama Yatsrib. Saat itu penduduk Madinah menerima kaum muslimin dengan baik dan hangat. Lalu dari Madinah inilah masyarakat Islam terbentuk, dan dasar-dasar ekonomi, politik dan kenegaraan diletakkan.

Sedangkan pada tahun-tahun awal kemerdekaan RI, saat ibukota Jakarta dalam keadaan tidak aman karena Belanda begitu ingin menancapkan kukunya kembali sebagai penjajah, Presiden dan Wapres saat itu hijrah ke Yogyakarta, dan ibukota negara pun pindah ke Yogyakarta. Saat itu Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII beserta seluruh rakyat Yogyakarta menerima dan menyambut hangat kepindahan tersebut.

Dari 2 peristiwa di atas, adalah tidak berlebihan jika dikatakan masyarakat Yogyakarta mempunyai semangat yang sama dengan masyarakat Madinah, sehingga kedua kota itupun diidentikkan.

Lalu apakah itu berarti Syari’ah Islam akan diberlakukan di Yogyakarta? Tentu saja tidak, karena keidentikan kedua kota adalah karena faktor historis bukan agamis. Lagipula, sebagai kota pelajar, bisa dikatakan Ygyakarta adalah ‘Indonesia kecil’ di mana orang-orang yang tinggal di sana adalah berasal dari berbagai daerah, suku dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda-beda.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: