Rabu, 10 Maret 2010

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kekerasan terhadap Perempuan adalah tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan karena asumsi gendernya, yang menyebabkan atau akan menyebabkan penderitaan secara fisik, seksual atau psikologis bagi perempuan termasuk ancaman, pemaksaan atau pembatasan kebebasan bergerak, baik yang terjadi di dalam ataupun di luar rumah.

Jenis-jenis Kekerasan:
1. Kekerasan Fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya.

2.Kekerasan Psikologis adalah suatu tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai/dikehendaki korbannya.

3.Kekerasan Seksual adalah berupa perkosaan, pelecehan seksual hingga pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan (marital rape) maupun incest.

4.Kekerasan Ekonomi adalah berupa tidak diberikannya nafkah bagi perempuan yang berstatus istri untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dilarang bekerja, dipaksa untuk bekerja, dieksploitasi secara ekonomi.

Bentuk Kekerasan Seksual

Pelecehan Seksual: perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks atau perilaku lainnya yang secara verbal atau pun fisik merujuk pada seks.

Meski perempuan seringkali yang jadi korban, namun pelecehan seksual ini bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Pelakunya pun bisa siapa saja. Bisa teman, pacar, atasan kerja, dokter, dukun, dsb.

Akibat dari pelecehan seksual ini, korban merasa malu, marah, terhina, tersinggung, benci kepada pelaku, dendam kepada pelaku, shok/trauma berat, dll.

Jika terjadi kekerasan, langkah apa yang perlu dilakukan korban pelecehan seksual? Yang perlu dilakukan korban adalah: membuat catatan kejadian (pelaku, tempat kejadian perkara, tanggal, jam, saksi dan ucapan yang dianggap melecehkan); bicara pada orang lain tentang pelecehan seksual yang terjadi, karena orang itu kelak bisa menjadi saksi; memberi pelajaran kepada pelaku atau korban dianjurkan untuk menunjukkan sikap ketidaksenangan akan perilaku pelecehan tersebut; mencari bantuan/dukungan kepada masyarakat.

Aturan mengenai kekerasan Seksual ini diatur dalam berbagai Undang-Undang yang terpisah, selain di KUHP, ada yang diatur dalam UU Pornografi, UU PKDRT, UU Perlindungan Anak.

(sumber: disampaikah Roswati dari Rifka Women’s Clinic, di kantor SAPDA 9/3/2010)
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: