Senin, 20 September 2010

Hukum Waris di Indonesia

Tentang kewarisan di Indonesia, berlaku lebih dari dua hukum. Plural. Ada Hukum Perdata Barat (BW), ada Hukum Islam dan ada Hukum Adat. Masing-masing memiliki ciri dan aturan sendiri-sendiri.

Misal, dalam Hukum Perdata Barat (BW) yang notabene adalah produk peninggalan kolonial Belanda, tidak ada perbedaan antara bagian ahli waris laki-laki dan ahli waris perempuan. Masing-masing ahli waris mewaris perkepala. Dan kedudukan suami/istri yang hidup terlama adalah sama dengan anak-anak yang sah.

Hal ini lain dengan Hukum Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist. Ada pembedaan bagian antara ahli waris laki-laki dan ahli waris perempuan, dimana bagian ahli waris laki-laki adalah sama dengan dua kali bagian ahli waris perempuan. Bahkan untuk ahli waris tertentu ditentukan bagiannya dengan jelas. (Untuk hal ini akan dibahas tersendiri).

Sedangkan dalam Hukum Adat, ada bermacam-macam aturan tentang kewarisan. Hal ini tidak mengherankan mengingat Indonesia adalah negara dengan berbagai macam suku yang masing-masing memiliki hukumnya sendiri.

Ada perbedaan mencolok antara BW, Hukum Islam dan Hukum Adat berkait dengan kewarisan. Menurut BW dan Hukum Islam, saat terbukanya kewarisan digantungkan dengan adanya kematian. Maksudnya tanpa adanya kematian maka tidak ada pewarisan.
Sedangkan menurut Hukum Adat, pewarisan dapat dimulai sebelum ada kematian sampai adanya kematian. Misal, pemberian orang tua pada anak yang hendak menikah dianggap sebagai bagian dari warisan, sehingga saat orang tua meninggal dunia, anak yang bersangkutan sudah tidak berhak lagi atas harta warisan yang ditinggalkan orang tuanya. Hal ini masih berlaku di beberapa daerah di DIY dan Jateng.

Dengan adanya Hukum Waris yang pluralistis ini apakah tidak akan menjadi rancu dan membingungkan masyarakat?
Di negara kita ada lembaga Pilihan Hukum dimana untuk hal tertentu tiap-tiap orang dapat memilih hukum mana dari semua hukum di Indonesia yang dirasa paling adil dan yang paling tepat berlaku untuk mereka.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: